Nia
4 min readDec 6, 2023

--

Bebaskan Palestina!

Birruh, biddam, nafdika yaa Aqsha

Aksi bela Palestina di Yogyakarta, 3 November 2023

Awalnya seluruh negeri Islam hidup aman dan damai dalam satu naungan kekuasaan yang penuh rahmat, yaitu daulah khilafah rasyidah. Namun, saat Daulah Islamiyyah runtuh 99 tahun lalu, negeri-negeri Islam terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara kecil yang tersekat oleh garis imajiner buatan Inggris melalui perjanjian Sykes-Picott dan kemudian didukung oleh Liga Bangsa-Bangsa. Kaum muslimin seperti anak ayam kehilangan induknya, terkungkung dalam sekat nasionalisme dan berada di bawah tekanan ideologi kapitalisme hingga detik ini.

Deklarasi Balfour menjadi awal petaka bagi rakyat Palestina. Inggris mendukung berdirinya negara yahudi di wilayah tersebut. Pendudukan, penjajahan, pengusiran, penganiayaan, hingga genosida tak terelakkan demi mewujudkan ambisi zionis menguasai bumi Syam. Apa yang sekarang terjadi di Palestina bukan dimulai sejak 7 Oktober 2023, melainkan sudah berlangsung sejak tahun 1948 pada peristiwa Nakba.

Kini kaum muslimin kehilangan perisai dan institusi yang mampu melindunginya. Kaum muslim memang berjumlah banyak, namun hanya seperti buih di lautan. Kita bisa saksikan hari ini penderitaan umat Islam tak kunjung berakhir, khususnya di Palestina, kejahatan yang terjadi sudah di luar nalar. Para penguasa negeri muslim tak bisa berbuat banyak. Mereka belum mampu bersatu untuk mengusir penjajah sebab berada di bawah tekanan ideologi kapitalisme; terikat pada kepentingan politik & ekonomi, kerja sama bilateral, normalisasi hubungan dengan Israel, hingga terlena dengan dunia yang membuat mereka berkhianat pada ummat. Kita pun tak bisa berharap banyak pada PBB, sebab nyatanya organisasi tersebut hanya bisa mengecam dan minim aksi nyata. Terlebih ada 5 negara yang mempunyai hak veto termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Selama AS memberikan dukungan penuh terhadap agresi yang dilancarkan Israel, sampai kapanpun pembebasan Palestina tak akan terwujud melalui PBB. Akhirnya ku sadari bahwa UN bukanlah united nations, melainkan useless nations.

Sudah saatnya umat Islam bangkit, menyadari bahwa hanya persatuan kaum muslimin lah yang mampu menjadi solusi atas persoalan yang terjadi. Menegakkan kembali institusi pemersatu ummat yang akan mengusir para penjajah. Melahirkan pejuang terbaik layaknya Shalahuddin al Ayyubi dan pemimpin terbaik layaknya Khalifah Al Mu’tashim Billah yang akan membebaskan negeri-negeri di seluruh dunia dari agresi penjajah. InsyaAllah.

Bendera Palestina yang berwarna hitam, putih, hijau, dan merah memiliki kombinasi warna yang sama dengan bendera negara Yordania, Kuwait, Sudan, dan Uni Emirat Arab. Hal itu memang sengaja dibuat mirip sebab desainernya orang yang sama, yaitu Mark Sykes, seorang diplomat Inggris. Ini menegaskan pembagian wilayah negeri muslim menjadi negara bangsa dengan spirit nasionalismenya yang dihembuskan kuat. Dengan demikian, Inggris berhasil memecah belah persatuan Islam sehingga sulit untuk bersatu kembali.

Sebelum daulah Islam runtuh, seluruh dunia Islam bersatu di bawah panji yang sama yaitu Al Liwa dan Ar Rayah. Bendera berwarna hitam dan putih lalu tertulis di atasnya kalimat tauhid. Dalilnya jelas, "Panji (ar-rayah) Rasulullah saw berwarna hitam dan benderanya (al-liwa) berwarna putih, tertulis padanya: Laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah." (HR AthThabrani).

Semoga kita bisa kembali bersatu di bawah panji yang sama, mengenyahkan sekat-sekat yang ada, dan mewujudkan Islam yang penuh rahmat bagi seluruh umat manusia.

Brigadir al-Qasam (Hamas) bukanlah negara, namun kekuatannya bisa mengalahkan entitas Yahudi yang mempunyai semua struktur negara. Israel sebagai negara kuat, tak bisa dikalahkan, terbukti hanya mitos.

Kekuatan kaum Muslim dan Mujahidin di Gaza, tanpa dukungan negara, ternyata bisa memaksa Israel mengikuti syarat gencatan senjata yang ditetapkan oleh Hamas. Karena itu, untuk mengalahkan Israel dan menghilangkan penjajahan Israel dari bumi Palestina, pertama kali yang harus dilakukan adalah memastikan apa akar masalah di Palestina?

Jawabannya yaitu penjajahan Israel. Maka dari itu, solusinya bukan dua negara sebagaimana Proposal AS, yaitu negara Israel dan Palestina, atau satu negara sebagaimana Proposal Inggris, yaitu negata Israel saja.

Solusinya adalah, keberadaan Israel di bumi Palestina harus ditiadakan. Bagaimana caranya? Dengan mengembalikan Palestina sebagai Tanah Kharajiyyah (milik umat Islam di seluruh dunia), bukan hanya milik rakyat Palestina. Dengan kata lain, Palestina harus dijadikan sebagai masalah umat Islam di seluruh dunia, bukan hanya masalah Arab, apalagi rakyat Palestina.

Saat ini, kaum Muslim di seluruh dunia sudah tahu bagaimana sikap penguasa mereka, dan bagaimana pengkhianatan mereka kepada Palestina. Karena itu, mustahil berharap kepada mereka. Begitu juga mustahil berharap kepada PBB, AS, Inggris, Eropa, maupun yang lainnya.

Umat hanya membutuhkan pemimpin politik ideologis yang mempunyai kesadaran politik, yang mampu memimpin mereka bangkit dan melawan segala bentuk penjajahan di seluruh dunia. InsyaAllah, dengan cara itu umat ini akan bangkit secepat kilat, merdeka, dan kembali menjadi adidaya. Setelah itu, umat ini akan membuat perhitungan dengan AS dan semua antek-antek mereka. Sebagaimana yang dilakukan Nabi setelah Penaklukan Kota Makkah. Semua penjahat perang itu sudah masuk dalam daftar yang akan dilawan oleh Nabi.

Semoga Allah menjaga bumi Isra' dan Mi’raj, para penduduk dan pejuangnya, serta membebaskannya dari kaum penjajah dan antek-anteknya.

--

--

Nia

A life-long learner. Associated with faith, knowledge, and wisdom.