Nia
3 min readJun 23, 2023

--

Dealing with failure.

Siapa sih di antara kita yang belum pernah gagal selama hidup? Tentu pernah ya meski hanya sekali. Bagiku, kegagalan adalah fase hidup yang tidak mudah untuk diterima, namun aku belajar banyak dari failure ini agar menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Saat tahu diri kita gagal, memang awalnya akan terasa sedih, kecewa, menyalahkan diri sendiri, ingin marah, kesal, dan semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Aku pun pernah merasakannya, lalu berakhir murung berhari-hari dan menangis. Apakah ini reaksi yang wajar? Ya, tentu sebagai manusia diri kita boleh bersedih saat gagal. Terlebih jika gagal pada suatu hal yang menurut kita amat penting dalam hidup dan sudah diimpikan sejak lama. Just take your time, sedih dan menangislah sampai lega sebelum kita melanjutkan realita kembali.

Namun seberapa sedihnya kita saat gagal, dunia belum berakhir kawan. Satu fragmen kegagalan dalam hidup tidak menentukan kualitas hidup kita pada akhirnya. Justru, jika kita bisa menyikapi kegagalan untuk bangkit kembali, di situlah kita punya kualitas berupa kekuatan untuk bounce back atau punya daya resilience yang baik. Paradigma seseorang akan sangat mempengaruhi daya resiliensnya. Maka, mari bangun persepsi yang benar soal kegagalan.

Menurutku, gagal tidak selamanya buruk. Kita bisa memandang dari beberapa hal berikut:

  1. Failure means protection. Saat kita gagal, sejatinya Allah sedang melindungi kita dari hal-hal yang kurang baik di depan sana yang mungkin akan terjadi. Allah menjaga kita dari sesuatu yang akan lebih buruk nantinya. Allah juga lebih memahami diri kita dan Maha Mengetahui masa depan. Jadi, mari berprasangka baik kepada-Nya.
  2. Failure means redirection. Jika satu pintu tertutup, maka Allah akan membuka 1000 pintu lain untuk kita. Jika kita kehilangan sesuatu yang kita tidak sangka, maka Allah pasti akan menggantikannya dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Timing Allah selalu tepat. Kita yang harus bersabar dan tidak terburu-buru. Sebab pada akhirnya, kita akan menangis penuh syukur pada takdir yang Allah tetapkan untuk kita. Saat kita berdoa, Allah pasti menjawab doa kita dalam 3 hal: apakah langsung terkabul, ditunda, atau diganti dengan yang lebih baik.
  3. You will be stronger after failed. Bahwa seseorang yang gagal itu jauh lebih baik dari seseorang yang tidak mencoba. Gagal adalah tanda bahwa ia berusaha. Mengetahui jawaban dari proses akhir yang kita usahakan itu jauh lebih baik daripada menyesali kesempatan yang terlewatkan. Maka, seseorang yang pernah gagal dia akan belajar. Belajar meneliti kesalahannya untuk tidak diulang, juga belajar mendapat pengalaman berharga dan meningkatkan jam terbang. Rasa kesal, marah, dan kecewa saat gagal pada akhirnya akan membuat mentalnya lebih kuat. Jika ia diberi tantangan lebih besar lagi dari Allah, ia akan mampu menghadapinya karena telah terlatih dari pengalaman sebelumnya.
  4. Embracing failure means you will appreciate every process of struggling and feel the sweetness of success. Seseorang yang pernah gagal akan jauh lebih menghargai proses hidup, tidak menjadi generasi pragmatis yang maunya serba instan, dan ketika kelak ia berhasil maka ia akan benar-benar bersyukur. Dia tahu rasanya gagal, rasanya memulai sesuatu dari 0, rasanya berjuang yang itu tak mudah. Maka, gagal ibarat batu loncatan yang perlahan akan mengantarkan kita ke tujuan.
  5. Failure will humble you. Gagal akan membuat seseorang lebih rendah hati. Ia tidak akan silau dengan kesuksesannya. Ia akan menyadari bahwa keberhasilannya adalah karena kehendak Allah dan atas ridha Allah, bukan semata usahanya. Ia tidak akan menyombongkan kemampuan dirinya sebab sebagai manusia kita sangatlah lemah tanpa pertolongan Allah. Terapkan dalam diri, “my success is only by Allah.”

Sebagaimana yang diungkapkan sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, “Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Saat doa dan harapan kita belum terwujud, maka ingatlah perkataan sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Jika Allah mengabulkan do’a ku maka aku berbahagia, tapi jika Allah tidak mengabulkan doaku maka aku lebih berbahagia. Sebab yang pertama adalah pilihanku, sedangkan yang kedua pilihan Allah SWT.”

Juga diingatkan dalam QS Al Baqarah ayat 216, “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Gagal atau berhasil itu bukanlah sesuatu yang perlu kita pusingkan. Sebab kegagalan yang membuat kita semakin dekat kepada Allah, jauh lebih baik dari keberhasilan yang membuat kita lalai dari mengingat Allah. Jadi, muaranya tetap satu: ridha Allah.

Maka yakinlah, bahwa ranah kita ialah berusaha dan berdoa. Perkara hasil itu urusan Allah. Maka apapun keputusan Allah, mari kita terima dengan sebaik-baiknya. Sebab takdir Allah pastilah yang terbaik.

Pict from Pinterest

--

--

Nia

A life-long learner. Associated with faith, knowledge, and wisdom.