Nia
4 min readDec 14, 2023

--

Dituntut sempurna.

Setiap kali ada yang memujiku, justru aku selalu bersedih. Mereka tidak tahu, bahwa sejatinya aku hanyalah pendosa hebat yang Allah tutupi aib-aibnya.

Dulu, saat aku masih di awal proses hijrah, aku tidak memikirkan personal branding-ku. Aku cukup menjalani hidupku seperti biasanya dengan pelan-pelan mereguk ilmu dari guru-guruku. Lambat laun, aku semakin mengerti apa saja kewajiban dan larangan bagi seorang muslim. Ternyata memakai jilbab syar’i itu wajib bagi seorang muslimah. Dan ini bare minimum. Ternyata menuntut ilmu agama dan berdakwah itu wajib bagi setiap muslim. Ini juga bare minimum. Ternyata shalat, menghindari zina, puasa Ramadhan, itu juga sama wajibnya dan harus dilakukan oleh setiap muslim. Meski di era sekuler ini makin sulit ditemui muslim yang benar-benar taat.

Dengan tertatih aku belajar untuk hijrah. Perlahan aku memperbaiki diri dengan menerapkan syariat. Dan lama kelamaan aku dicap/dilabeli 'ukhti' atau orang-orang menganggapku sebagai seorang muslimah yang taat agama karena aku memakai pakaian syar’i, ikut pengajian, dan berada di circle yang baik. Padahal yang aku lakukan ini sejatinya bare minimum seorang muslim. Aku merasa itu bukan hal spesial. Sungguh aku masih sangat jauh sekali dari standar 'shalihah' yang seharusnya. Apalagi jika dibandingkan dengan para shahabiyah radhiyallahu anhuma, tidak ada apa-apanya. Diriku juga masih sangat fakir ilmu, untuk itulah aku memaksakan diri untuk selalu belajar agama. Aku bukan lulusan pesantren, sehingga ilmu agamaku sangat basic yang hanya diperoleh dari sekolah dan kampus. Makanya ketika aku mendapat akses untuk belajar agama secara lebih intensif, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Kalau boleh jujur, hidupku banyak terselamatkan oleh dakwah. Aku pernah hampir putus asa karena kegagalanku, hampir gila karena cinta, pernah hampir menyerah ketika menemui masalah, lalu cahaya Islam menyelamatkanku. Ustadzahku hadir untuk menasihati dan membimbingku, juga ada teman-temanku yang teramat baik menemani prosesku berjuang dan sembuh dari luka. Alhamdulillah.

Tapi sungguh, ketika label 'ukhti' ini melekat pada diriku seringkali orang lain berekspektasi bahwa aku pasti shalihah dan berilmu. Mereka berekspektasi kalau semua perkataan dan sikapku harus selalu benar, santun, dan akhlakku harus selalu mulia. Jika aku sedikit saja terpeleset dalam lembah dosa, mereka tentu akan men-judge dan menghinakan diriku. Jika ada kesalahan yang aku perbuat, orang lain juga akan menyalahkan agamaku. Astaghfirullah ini beban yang amat berat.

Bahkan dulu ketika aku belum mendapat amanah menjadi musyrifah, sering aku mendengar bahwa aku harus sudah selesai dengan diriku sendiri. Padahal yang namanya hidup tidak akan pernah usai dari masalah. Tuntutan untuk bisa kuat, profesional, dan benar dalam segala hal ini kadang membuatku tertekan. Namun apakah kemudian aku perlu berhenti dari pembinaan ini? Tentu tidak. Bukan dakwah yang membutuhkanku, tapi aku yang membutuhkan dakwah. Aku ibarat ‘mobil rusak’ yang masuk ke ‘bengkel’ pembinaan Islam. Maka jika aku masih belum benar, ada kerusakan yang perlu diperbaiki, maka aku menyerahkan diriku untuk dididik di sini.

Kini aku juga sadari, bahwa semakin bertambahnya ilmu yang dipelajari, ujiannya makin berat. Ya, ujian terkait apakah kita bisa mengimplementasikan ilmu tersebut dengan benar. Ini memang tidak mudah dan beraaaat sekali. Dan aku semakin sadar bahwa kita selalu butuh hidayah, tidak peduli sudah sebanyak apa ilmu yang dipelajari atau sudah selama apa kita hijrah. Hidayah tidak hanya kita butuhkan di awal hijrah. Tapi dalam prosesnya pun, kita tidak akan lepas dari godaan syaithan, maka kita butuh penjagaan Allah selalu.

Meski kita banyak alpa dan dosa, satu hal yang menjadi peganganku yaitu bahwa kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Jikapun hari ini kita melakukan kesalahan, segeralah bertaubat dan tetap berbuat baik untuk menutupi kesalahan itu.

Kadang orang lain akan menyalahkan, "Apa gunanya belajar agama tapi masih bermaksiat?" Memang maksiatnya salah. Tapi belajar agama itu lain hal lagi. Allah menghisab kita di setiap perbuatannya. Selagi nafas masih berhembus, kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri kita. Manusia memang tempatnya luput dan dosa, tapi jangan jadikan itu alasan untuk terus menyalahi aturan-Nya.

Setelah bertahun-tahun ada dalam pembinaan, aku jadi terpikir. “Kalau aku dan teman-temanku yang sudah belajar agama dan belajar menerapkan syariat saja masih bisa terjatuh dalam dosa, bagaimana mereka di luar sana yang tidak belajar agama sama sekali? Bukankah makin rusak?” Dan benar saja, kerusakan itu kita bisa lihat sudah marak sekali ada dimana-mana. Kita memang butuh support system yang lebih kuat lagi agar bisa mewujudkan lingkungan yang baik itu secara lebih luas. InsyaAllah dengan penerapan Islam secara kaffah.

Jadi, logikanya jangan terbalik malah semakin menghindari agama karena melihat satu dua orang yang berbuat kesalahan. Kita tetap harus mendekat kepada Allah dan belajar ilmu agama sebab itu wajib hukumnya. Jangan beramal baik karena figuritas personal, tapi beramal baiklah karena Allah. Manusia akan rentan mengecewakan. Tidak ada jaminan bahwa yang terlihat berilmu sekalipun akan bebas dari kesalahan. Kita bukan malaikat, kita hanya manusia biasa.

“Kamu pikir orang-orang sholeh itu tak punya dosa? Mereka hanya menyembunyikan dosa mereka dan tidak mengumbarnya, mereka memohon ampun dan tak mengulanginya, mereka mengakuinya dan tak membuat pembenaran atas dosanya, mereka berbuat baik setelah melakukan kesalahan.”

Ampuni diriku, yaa Allah. Maafkan hamba-Mu ini yang terlampau sering berbuat salah. Berikan kami hidayah dan kekuatan untuk menerapkan seluruh aturan-Mu. Rabbi habli hukman wa alhiqni bisshalihin.

--

--

Nia

A life-long learner. Associated with faith, knowledge, and wisdom.